Kota Tua, atau dulunya Batavia, adalah museum terbuka yang menyimpan banyak rahasia, salah satunya adalah mitos tentang Gudang Senjata rahasia di bawah tanah. Walaupun banyak bangunan di kawasan ini merupakan cagar budaya, sejarah mencatat bahwa area Balai Kota (Stadhuis), yang kini menjadi Museum Fatahillah, memiliki ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai penjara.
Namun, di sekitar kawasan Kota Tua, khususnya di dekat dermaga, terdapat sisa-sisa kompleks benteng pertahanan Kasteel Batavia. Benteng ini dilengkapi dengan bastion dan memiliki gudang logistik yang besar, salah satunya dikenal sebagai Gudang Timur. Gudang-gudang ini berfungsi menyimpan komoditas dagang dan amunisi untuk melindungi pusat kekuasaan VOC dari serangan, baik dari laut maupun kerajaan lokal.
Kisah tentang Gudang Senjata rahasia di bawah tanah seringkali bercampur dengan cerita Penjara Bawah Tanah di Museum Fatahillah. Penjara ini memang terletak di bawah permukaan tanah, lembap, dan sering terendam air. Tempat ini adalah saksi bisu penderitaan para pejuang pribumi, termasuk pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, yang ditahan di sini sebelum dipindahkan ke Sumedang.
Meski tidak secara spesifik sebagai Gudang Senjata utama yang “tak pernah habis” amunisinya, arsitektur pertahanan Kota Batavia secara keseluruhan dirancang untuk menjadi benteng. Tembok kota dan berbagai bangunan pertahanan seperti Gudang Timur dan Gudang Barat menyimpan persenjataan, meriam, dan amunisi sebagai persiapan perang, menjadikannya gudang logistik militer yang vital bagi Belanda.
Sisa-sisa bangunan seperti Gudang Timur di kawasan Kampung Tongkol masih ada, meskipun kondisinya kini memprihatinkan dan terancam hancur. Gudang-gudang ini, yang dibangun VOC pada abad ke-17, adalah bukti nyata bagaimana Belanda membangun fondasi militer yang kuat di Batavia untuk mengamankan perdagangan dan mengukuhkan kolonialisme mereka di Nusantara.
Misteri Gudang Senjata rahasia ini terus menjadi bagian dari memori kolektif Kota Tua, mendorong pengunjung untuk menelusuri setiap sudut bangunan tuanya. Warisan sejarah ini mengingatkan kita bahwa setiap batu bata di Kota Tua memuat kisah tentang pertahanan, perlawanan, dan strategi Belanda dalam menjaga amunisi kekuatan dan kekuasaan mereka.