BANDUNG, JAWA BARAT – Pemerintah Kota Bandung terus menggencarkan program penyebaran nyamuk ber-Wolbachia sebagai salah satu upaya strategis dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya. Program ini, yang telah dimulai secara bertahap sejak akhir tahun 2024, kini semakin intensif dilakukan di berbagai wilayah Kota Bandung pada awal April 2025.
Maraknya penyebaran nyamuk Wolbachia ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang menunjukkan efektivitas nyamuk yang telah diinfeksi bakteri Wolbachia dalam menghambat perkembangan virus Dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyakit DBD.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Anhar Latif, menjelaskan bahwa penyebaran nyamuk Wolbachia dilakukan melalui pelepasan telur nyamuk ber-Wolbachia di sejumlah titik strategis yang memiliki angka kasus DBD yang tinggi. “Pelepasan telur nyamuk Wolbachia ini dilakukan secara bertahap dan terukur. Tim kami secara rutin melakukan pemantauan dan evaluasi di lokasi-lokasi penyebaran,” ujar dr. Anhar Latif pada Rabu, 9 April 2025, saat ditemui di Balai Kota Bandung.
Kronologi penyebaran nyamuk Wolbachia di Kota Bandung dimulai dengan tahap sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai program ini. Setelah mendapatkan pemahaman dan persetujuan dari warga, tim Dinkes Kota Bandung mulai melakukan pelepasan telur nyamuk Wolbachia di beberapa kelurahan yang menjadi fokus utama.
Pada pekan ini, tepatnya pada tanggal 7 hingga 9 April 2025, kegiatan pelepasan telur nyamuk Wolbachia terpantau intensif dilakukan di wilayah Kecamatan Coblong, Bandung Wetan, dan Cibeunying Kidul. Petugas dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, yang dipimpin oleh Koordinator Program Pengendalian DBD, Ibu Rini Setiawan (40 tahun), terlihat melakukan penyebaran telur di lingkungan perumahan warga, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya.
Maraknya penyebaran nyamuk Wolbachia di Kota Bandung ini menjadi contoh inovasi dalam pengendalian penyakit menular berbasis vektor. Pemerintah Kota Bandung optimis bahwa dengan dukungan masyarakat dan kerja keras semua pihak, angka kasus DBD di Kota Kembang dapat terus menurun. Program ini juga diharapkan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi permasalahan serupa.