Menyaksikan Pembuatan Angklung Daeng Soetigna yang Legendaris di Bandung

Menyaksikan Pembuatan Angklung Daeng Soetigna yang Legendaris di Bandung

Angklung, alat musik tradisional Jawa Barat yang terbuat dari bambu, memiliki tempat istimewa dalam khazanah seni dan budaya Indonesia. Salah satu inovasi penting dalam perkembangan angklung adalah Angklung Daeng Soetigna, yang dikenal dengan tangga nada diatonisnya. Menyaksikan secara langsung proses pembuatannya di Bandung adalah sebuah pengalaman yang tak ternilai harganya.

Meskipun tidak ada satu lokasi tunggal yang secara eksklusif memproduksi seluruh Angklung Daeng Soetigna secara massal saat ini, jejak dan warisan pembuatannya masih dapat ditelusuri di beberapa bengkel dan sanggar seni di Bandung. Daeng Soetigna sendiri, seorang tokoh pendidikan dan musik yang lahir pada tanggal 13 Agustus 1908 di Bandung, mengembangkan angklung diatonis pada tahun 1938.

Proses pembuatan Angklung Daeng Soetigna secara umum melibatkan beberapa tahapan yang membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus. Pertama, pemilihan bambu yang tepat menjadi kunci utama. Bambu yang digunakan biasanya adalah jenis bambu hitam (awi hideung) atau bambu ater (awi temen) yang sudah cukup umur dan kering.

Setelah bambu dipilih, tahap selanjutnya adalah pemotongan bambu sesuai dengan ukuran nada yang diinginkan. Proses ini membutuhkan keahlian khusus untuk memastikan setiap potongan bambu menghasilkan nada yang tepat ketika dimainkan. Setelah dipotong, bambu kemudian dibersihkan dan dikeringkan secara alami untuk mengurangi kadar air dan mencegah serangan hama.

Tahap berikutnya adalah pembentukan tabung angklung. Bambu yang sudah kering kemudian dibentuk menjadi tabung dengan ukuran dan diameter tertentu. Di bagian bawah tabung dibuat celah yang akan menghasilkan bunyi ketika digoyangkan. Proses ini juga membutuhkan ketelitian agar suara yang dihasilkan sesuai dengan nada yang telah ditentukan.

Setelah tabung terbentuk, tahap selanjutnya adalah pemasangan tali penggantung dan penyetelan nada. Tali penggantung biasanya terbuat dari rotan atau benang yang kuat. Proses penyetelan nada dilakukan dengan cara mengerok atau mengikis bagian dalam tabung bambu hingga menghasilkan nada yang tepat. Proses ini membutuhkan kepekaan telinga dan pengalaman yang matang.

Menyaksikan proses pembuatan angklung, termasuk jenis diatonis yang dipopulerkan oleh Daeng Soetigna, adalah cara yang baik untuk mengapresiasi warisan budaya Indonesia dan memahami betapa rumit dan telitinya pembuatan alat musik tradisional ini. Pengunjung dapat mencari informasi mengenai bengkel atau sanggar seni di Bandung yang mungkin menerima kunjungan atau memiliki demonstrasi pembuatan angklung.

Comments are closed.