Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah bertransformasi menjadi motor Utama Perekonomian Indonesia, menggeser ketergantungan tradisional pada sumber daya alam. Di era pasca-pandemi, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) terbukti paling resilien dan cepat pulih, menjadikannya tumpuan baru bagi pertumbuhan nasional. Dengan kekayaan budaya dan alam yang melimpah, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadikan sektor ini sebagai lokomotif Utama Perekonomian.
Sektor pariwisata memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang luar biasa. Setiap rupiah yang diinvestasikan dalam pariwisata akan mengalir ke berbagai sektor lain, mulai dari transportasi, kuliner, hingga kerajinan. Dampaknya langsung terasa pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Strategi pengembangan 5 Destinasi Super Prioritas adalah bukti fokus Kemenparekraf menjadikan pariwisata sebagai mesin Utama Perekonomian.
Di sisi lain, ekonomi kreatif mencakup 17 subsektor, mulai dari kuliner, fashion, hingga aplikasi dan game. Sektor ini didorong oleh inovasi dan hak kekayaan intelektual (HKI), yang menjanjikan nilai tambah tinggi tanpa eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Utama Perekonomian masa depan bergantung pada aset tak berwujud ini, di mana kreativitas adalah komoditas termahal.
Kemenparekraf secara aktif mengintegrasikan sektor pariwisata dengan ekraf. Destinasi wisata kini tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya otentik yang diciptakan oleh pelaku ekraf lokal. Sinergi ini meningkatkan daya saing destinasi dan memperpanjang masa tinggal wisatawan. Pendekatan terpadu ini adalah kunci untuk menghasilkan pendapatan devisa yang berkelanjutan.
Pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi fokus Utama Perekonomian ini. Banyak pelaku ekraf adalah UMKM yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Dengan program pelatihan, akses permodalan, dan fasilitasi pendaftaran HKI, Kemenparekraf membantu UMKM naik kelas, mengubah produk lokal menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.
Visi untuk menjadikan sektor ini motor Utama Perekonomian juga didukung oleh adaptasi teknologi. Pemasaran destinasi wisata kini sepenuhnya bergantung pada digitalisasi, dan ekraf berbasis aplikasi terus tumbuh pesat. Kemenparekraf memainkan peran sebagai fasilitator digital, memastikan bahwa pelaku industri dapat memanfaatkan platform global untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Penguatan branding dan narasi Indonesia di mata dunia menjadi tugas krusial Kemenparekraf. Melalui kampanye yang terstruktur, Indonesia diposisikan tidak hanya sebagai tempat liburan, tetapi sebagai rumah bagi budaya yang dinamis dan pusat inovasi kreatif. Soft power ini sangat efektif dalam menarik investasi dan kunjungan wisatawan berkualitas.