Minggu kelabu menyelimuti sebagian wilayah Bandung saat tragedi kebakaran Bandung menghanguskan tiga bangunan sekaligus. Diduga kuat, kobaran api dahsyat ini dipicu oleh tumpukan bekas limbah sepatu yang mudah terbakar, menyebabkan kerugian materiil yang tidak sedikit dan menyisakan duka bagi para pemilik bangunan. Insiden ini menjadi pengingat pahit akan bahaya limbah industri jika tidak dikelola dengan benar.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Minggu, 12 Mei 2024, sekitar pukul 02.00 dini hari di Jalan Moh. Toha, Bandung. Kobaran api pertama kali terlihat membubung tinggi dari area penampungan limbah sepatu yang berada di belakang deretan ruko. Karena sifat limbah yang sangat mudah terbakar dan angin yang cukup kencang, api dengan cepat menjalar dan melahap bangunan di sekitarnya. Hanya dalam hitungan jam, api telah meludeskan dua unit ruko yang difungsikan sebagai toko tekstil dan satu unit gudang penyimpanan barang. Tragedi kebakaran Bandung ini menimbulkan kepanikan warga sekitar.
Petugas pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung segera diterjunkan ke lokasi setelah menerima laporan. Sebanyak 10 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, ditambah dengan puluhan personel yang berjibaku memadamkan api. Proses pemadaman berlangsung dramatis dan memakan waktu lebih dari lima jam karena sulitnya mencapai titik api di tumpukan limbah serta material bangunan yang mudah terbakar. Pada pukul 07.30 WIB, api akhirnya berhasil dikendalikan dan memasuki tahap pendinginan. Tragedi kebakaran Bandung ini juga menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi karena banyaknya warga yang ingin melihat.
Penyelidikan awal oleh pihak kepolisian, dalam hal ini Polsek setempat, mengindikasikan bahwa dugaan kuat penyebab kebakaran adalah kelalaian dalam pengelolaan limbah. Limbah sepatu yang mengandung bahan sintetis dan perekat sangat rentan terbakar, bahkan oleh percikan api kecil sekalipun atau korsleting listrik. Kerugian materiil ditaksir mencapai miliaran rupiah, meskipun jumlah pastinya masih dalam proses penghitungan. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, meskipun beberapa warga sempat dievakuasi karena asap tebal.
Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, khususnya pelaku industri, tentang pentingnya standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dalam pengelolaan limbah. Tragedi kebakaran Bandung ini menekankan urgensi pengawasan dan penegakan hukum yang lebih serius terhadap penyimpanan material berbahaya, demi mencegah kejadian serupa terulang di masa depan dan melindungi masyarakat dari potensi bahaya yang mengancam.